Hasil Budaya dari Aceh

  • Rumah Adat
1. Struktur Bangunan Rumah Rumah adat Krong Bade –atau juga biasa disebut Rumoh Aceh, adalah sebuah rumah dengan struktur panggung dengan tinggi tiang 2,5 sd 3 meter dari permukaan tanah. Keseluruhan rumah ini dibuat dari bahan kayu, kecuali atapnya yang terbuat dari bahan daun rumbia atau daun enau yang dianyam, serta lantainya yang dibuat dari bambu. Karena memiliki struktur panggung, pada rumah adat Aceh ini kita dapat menemukan ruang bawah. Ruang ini biasanya digunakan sebagai gudang tempat penyimpanan bahan pangan, serta sebagai tempat para wanita untuk melakukan aktivitas, misalnya aktivitas menenun kain khas Aceh. Untuk memasuki rumah, kita perlu meniti tangga di bagian depan rumah. Tangga tersebut biasanya memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Adapun setelah naik ke bagian atas, kita akan menemukan banyak sekali lukisan yang menempel di dinding-dinding rumah sebagai hiasan. Jumlah lukisan pada dinding luar rumah dapat menjadi simbol tingkat ekonomi pemiliknya.

2. Fungsi Rumah Adat Selain memiliki fungsi sebagai identitas budaya, rumah Krong Bade juga memiliki fungsi praktis yaitu sebagai rumah tinggal masyarakat Aceh. Untuk menunjang fungsi praktisnya tersebut, rumah adat Aceh ini dibagi menjadi beberapa ruangan dengan kegunaannya masing-masing, yaitu:
  • Ruang Depan atau biasa disebut seuramoĂ« keuĂ«. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang santai dan tempat berisirahat bagi seluruh anggota keluarga. Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat menerima tamu.
  • Ruang Tengah atau biasa disebut seuramoĂ« teungoh. Ruangan ini adalah ruang inti dari sebuah rumah adat Aceh (ruang inong) dan di tandai dengan lantai yang lebih tinggi dari ruang depan. Karena termasuk ruang inti, maka ruangan ini termasuk sangat privat. Para tamu yang datang tidak akan pernah diijinkan untuk memasukinya. Fungsi dari kamar-kamar yang terdapat di ruang tengah ini antara lain sebagai tempat tidur kepala keluarga, kamar anak, ruangan kamar pengantin, serta sebagai ruang pemandian mayat ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
  • Ruang Belakang atau biasa disebut sebagai seurameo likot. Ruangan ini adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat makan, dapur, dan tempat bercengkrama bagi sesama anggota keluarga. Lantai ruangan ini biasanya lebih rendah dibanding lantai rangan tengah. Sama seperti ruang depan, ruang belakang juga tidak memiliki kamar-kamar.

3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis Ada beberapa ciri khas yang membedakan rumah Krong Bade dengan rumah adat Indonesia lainnya.


Ciri khas rumah adat Aceh tersebut antara lain:
  1. Memiliki gentong air di bagian depan untuk tempat membersihkan kaki mereka yang akan masuk rumah. Ciri ini memiliki filosofi bahwa setiap tamu yang datang harus memiliki niat baik.
  2. Strukturnya rumah panggung memiliki fungsi sebagai perlindungan anggota keluarga dari serangan binatang buas.
  3. Memiliki tangga yang anak tangganya berjumlah ganjil, merupakan simbol tentang sifat religius dari masyarakat suku Aceh.
  4. Terbuat dari bahan-bahan alam; merupakan simbol bahwa masyarakat suku Aceh memiliki kedekatan dengan alam.
  5. Memiliki banyak ukiran dan lukisan di dinding rumah; menandakan masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat mencintai keindahan.
  6. Berbentuk persegi panjang dan membujur dari arah barat ke timur; menandakan masyarakat Aceh adalah masyarakat yang religius.
Rumah adat Aceh atau Rumoh Aceh tidak bisa dibangun secara sembarangan. Mengingat fungsinya yang begitu penting bagi kehidupan pemiliknya, beberapa aturan wajib ditaati oleh seseorang yang hendak membangun rumah adat Krong Bade ini. Aturan tersebut di antaranya upacara penentuan hari baik, mengadakan kenduri sebelum membangun, pemilihan bahan bangunan yang berkualitas, pengolahan bahan bangunan dengan presisi, finishing dengan pewarnaan, penambahan lukisan, dan pemberian ukiran, serta diakhiri dengan kenduri syukuran saat rumah akan ditempati pemiliknya.
  • Tarian Daerah
Tari Saman Sejarah dan asal usul tari Saman sebetulnya bermula dari budaya masyarakat Suku Gayo Lues yang berakulturasi dengan budaya Timur Tengah. Berdasarkan hasil penelitian, asal usul tarian ini diketahui diciptakan dan dikembangkan oleh seorang syekh (pemuka agama) masyarakat Gayo yang bernama Syekh Saman. Tari Saman sendiri saat ini telah masuk dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu representatif budaya tak benda sejak 24 November 2011 silam.
1. Tema dan Makna Filosofi Tari Saman merupakan media yang kerap digunakan masyarakat Aceh untuk berdakwah. Ia sering dipertunjukan dalam peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad (Maulid Nabi). Sebelum memulai tarian ini, seorang tetua adat akan menyampaikan nasihat-nasihat kehidupan dalam bentuk syair-syair khas aceh sebagai mukadimah atau pembukaan. Setelah itu, para penari yang terbagi menjadi 2 kelompok akan mulai mementaskan tarian sembari diiringi dengan lagu (syair) beserta bunyian kendang secara dinamis. Dalam setiap syair yang dinyanyikan untuk mengiringi tari saman terdapat nilai-nilai pendidikan, kesopanan, keagamaan, kekompakan, kepahlawanan, dan kebersamaan yang menjadi pegangan hidup bagi masyarakat Aceh.
2. Gerakan Tari Saman Ada 2 gerakan utama yang terdapat dalam tari saman, yaitu gerak tepuk tangan dan gerak tepuk dada. Kedua gerakan ini diduga berasal dari budaya masyarakat Melayu Kuno yang kemudian dimodifikasi oleh Syekh Saman dengan penambahan nuansa islami melalui syair-syair yang mengiringinya. Dalam perkembangannya, gerakan tari saman juga diperkaya dengan adanya ragam gerak lainnya yang dalam bahasa Gayo disebut gerak guncang, gerak lingang, gerak kirep, dan gerak surang-saring.
3. Iringan Tari Salah satu hal unik lainnya yang ditemukan pada tari saman terletak pada iringannya. Tidak seperti kebanyakan tari tradisional lainnya di Indonesia yang kerap diiringi tetabuhan alat musik, tari saman sendiri hanya diiringi oleh suara penari dan bunyi tepukan dari gerakan-gerakan yang dihasilkan, seperti tepuk tangan, tepuk dada, tepuk paha, dan tepuk lantai. Untuk iringan dari syair yang dinyanyikan terdapat aturan baku yang wajib dipatuhi oleh setiap penari dalam lirik lagu tari saman. Aturan tersebut adalah pembagian nyanyian pengiring menjadi 5 macam, yaitu:
  • Rengum adalah suara auman yang diawali oleh syekh (pemberi aba-aba).
  • Dering adalah suara auman semua penari yang mengiringi rengum dari syekh.
  • Redet adalah lagu singkat yang dinyanyikan dengan suara pendek oleh salah satu penari di bagian tengah tari.
  • Syekh adalah lagu yang dinyanyikan dengan suara panjang tinggi melengking oleh seorang penari sebagai tanda perubahan gerak.
  • Saur adalah lagu yang diulang secara bersama-sama oleh seluruh penari sesaat setelah dinyanyikan penari solo.
4. Setting Panggung Tari saman pada umumnya dimainkan oleh penari pria berjumlah ganjil, biasanya berkisar pada angka belasan. Dari jumlah penari tersebut, ada 2 orang yang akan diangkat menjadi syekh atau pemberi aba-aba. Syekh umumnya disetting supaya berada di ujung-ujung rangkaian penari. Selain bertugas sebagai pemberi aba-aba gerakan, syekh juga bertugas menyanyikan syair-syair lagu tertentu sekaligus pemberi mukadimah pada awal tarian.
5. Tata Rias dan Tata Busana Para penari tari saman umumnya kerap dibagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok mengenakan kostum berwarna mencolok dengan warna yang berbeda, seperti kuning, biru, merah, hijau, dan lain sebagainya. Kostum tarian yang digunakan adalah pakaian adat Aceh Gayo yang erat dengan budaya Melayu, dengan ciri khas penutup kepala (destar) yang ujungnya menjulang.
6. Properti Tari Meski lebih kerap dimainkan tanpa properti, namun pada perkembangannya, pertunjukan tari saman juga mengenal adanya properti berupa alat musik rebana. Alat musik ini dimainkan dalam tarian sebagai tambahan irama dalam pertunjukan tari saman yang lebih besar. Selain rebana, tidak terdapat properti lainnya yang digunakan penari saman.
Seiring perkembangan zaman, tari saman khas Aceh kini mengalami banyak perubahan, baik dari segi aturan, maupun dalam segi gerakan-gerakannya. Sebagai contoh, bila pada masa silam tarian ini hanya boleh dimainkan oleh pria, sekarang para wanita pun diperkenankan untuk mencobanya. Selain itu, tarian yang dimasa silam hanya dimainkan pada perayaan Maulid Nabi, kini juga kerap dipertunjukan pada acara-acara lainnya, seperti dalam acara penyambutan tamu negara atau dalam pembukaan sebuah festival. 
  • Pakaian Adat

Pakaian Adat Aceh Pakaian adat Aceh untuk pria disebut Linto Baro, sementara yang untuk wanita disebut Daro Baro. Kedua pakaian tersebut memiliki ciri khas pada setiap bagian-bagiannya. Anda bisa melihat karakteristik dari bagian-bagian pakaian adat Aceh tersebut pada gambar di bawah ini.
Pakaian Adat Aceh untuk Pengantin Laki-laki Linto Baro dahulunya merupakan pakaian adat yang dikenakan oleh pria dewasa saat menghadiri upacara adat atau upacara kepemerintahan. Pakaian ini diperkirakan mulai ada sejak zaman kerajaan Perlak dan Samudra Pasai. Baju Linto Baro sendiri terdiri atas baju atasan yang disebut baju Meukasah, celana panjang yang disebut siluweu, kain sarung bernama ijo krong, sebilah siwah atau rencong yang menjadi senjata tradisional khas Aceh, serta tutup kepala bernama Meukeutop.
1. Baju Meukeusah Baju meukeusah adalah baju yang terbuat dari tenunan kain sutra yang biasanya memiliki warna dasar hitam. Warna hitam dalam kepercayaan adat Aceh disebut sebagai perlambang kebesaran. Oleh karena itulah tak jarang baju Meukeusah ini dianggap sebagai baju kebesaran adat Aceh. Pada baju meukeusah kita dapat menemukan sulaman benang emas yang mirip seperti kerah baju China. Kerah dengan bentuk tersebut diperkirakan karena adanya asimilasi budaya aceh dengan budaya China yang dibawa oleh para pelaut dan pedagang China di masa silam.
2. Celana Sileuweu Sama seperti baju, celana panjang yang dikenakan pada pakaian adat Aceh untuk laki-laki juga berwarna hitam. Akan tetapi, celana atau dalam Bahasa Aceh disebt Sileuweu ini dibuat dari bahan kain katun. Beberapa sumber menyebut nama celana ini adalah Celana Cekak Musang. Celana khas dari adat Melayu. Sebagai penambah kewibawaan, celana cekak musang dilengkapi dengan penggunaan sarung dari kain songket berbahan sutra. Kain sarung yang bernama Ija Lamgugap, Ija krong, atau ija sangket  tersebut diikatkan ke pinggang dengan panjang sebatas lutut atau 10 cm di atas lutut. 
3. Tutup Kepala Pengaruh budaya Islam dalam adat Aceh juga terasa dengan adanya kopiah sebagai penutup kepala pelengkap pakaian adat Aceh. Kopiah ini bernama Meukeutop. Meukotop adalah kopiah lonjong ke atas yang dilengkapi dengan lilitan Tangkulok, sebuah lilitan dari tenunan sutra berhias bintang persegi 8 dari bahan emas atau kuningan.

4. Senjata Tradisional Sama seperti kebanyakan pakaian adat dari provinsi lainnya, pakaian adat Aceh juga dilengkapi dengan penggunaann senjata tradisional sebagai pelengkap. Senjata tradisional Aceh atau Rencong umumnya diselipkan pada lipatan sarung di bagian pinggang dengan bagian gagang atau kepala menonjol keluar.
Pakaian Adat Aceh untuk Pengantin Perempuan atau pakaian Daro Baro umumnya memiliki warna yang lebih cerah dibandingkan pakaian Linto Baro. Beberapa warna yang biasa digunakan adalah warna merah, kuning, hijau, atau ungu. Adapun untuk desainnya sendiri, pakaian ini terbilang sangat Islami dan tertutup. Berikut ini adalah bagian-bagian dari pakaian adat Aceh Daro Baro tersebut.
1. Baju Kurung Baju atasan untuk wanita adalah baju kurung lengan panjang. Baju ini memiliki kerah dan motif sulaman benang emas yang khas seperti baju China. Adapun dari bentuknya, baju ini terbilang gombor panjang hingga pinggul untuk menutup seluruh lekuk dan aurat tubuh dari si pemakainya. Dari bentuk dan motifnya tersebut, menunjukan bahwa baju ini adalah hasil perpaduan budaya Melayu, Arab, dan Tionghoa.
2. Celana Cekak Musang Secara umum, celana yang dikenakan pada pakaian adat Aceh untuk pria dan wanita sama saja. Celana cekak musang dilengkapi dengan lilitan sarung sepanjang lutut sebagai penghiasnya. Kita akan dengan mudah melihat wanita Aceh menggunakan celana ini terutama saat ada pertunjukan tari saman.
3. Penutup Kepala dan Perhiasan Sesuai dengan julukan serambi Mekkah yang di sandangnya, pakaian adat dari Provinsi Aceh untuk wanita sebisa mungkin dibuat menutup seluruh auratnya, termasuk pada bagian kepalanya. Bagian kepala wanita Aceh ditutup dengan kerudung bertahtakan bunga-bunga segar yang disebut patham dhoi. Kepala dan bagian tubuh lainnya juga akan dilengkapi dengan beragam pernik perhiasan seperti tusuk sanggul anting, gelang, kalung, dan lain sebagainya..
  • Tradisi Peusijuek.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidtLLFvuQLW8JMxyWUU46HOM7sv-XrzBAdP2d6sa2qB5nSYTy3rsmbEcVDx2I5dAE4mkDznxFOn4yseOgIWuSo9C1FIQV2YUJvq4lNC66M1CvzQNzohGIGRTVyAdrgV9GjbweWq-1ESdoh/s320/peusijuek+%25282%2529.jpg
Apakah tradisi Peusijuek itu?
Peusijuek adalah salah satu ritual atau prosesi adat dalam budaya masyarakat Aceh. Tradisi ini biasanya dilakukan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Tradisi Peusijuek merupakan salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu, dan masih sering dilakukan hingga sekarang. Tradisi ini biasanya sering dilakukan di hampir semua kegiatan adat masyarakat Aceh, seperti pernikahan adat, perayaan adat, syukuran dan upacara adat lain-lain.

Asal Usul Tradisi Peusijuek
Tradisi Peusijuek ini merupakan salah satu tradisi lama masyarakat Aceh. Menurut sejarahnya, Tradisi Peusijuek ini merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Hindu. Kebudayaan Hindu di Aceh sendiri disebabkan karena hubungan antara Aceh dan India di masa lampau, sehingga secara tidak langsung budaya Hindu yang dibawanya mulai mempengaruhi kebudayaan masyarakat Aceh. Salah satunya adalah dengan adaya Tradisi Peusijuek ini. Kata “Peusijuek” sendiri diambil dari kata “sijue’”, yang dalam bahasa Aceh berarti “dingin”. Sehingga dapat juga diartikan mendinginkan atau menyejukan.

Pada saat itu upacara peusijuk yang dilaksanakan masih menggunakan mantra atau doa-doa tertentu. Namun semenjak masuknya agama Islam di Aceh, tradisi tersebut kemudian diubah dengan memasukan unsur keIslaman didalamnya seperti doa-doa keselamatan, shalawat,doa-doa dalam ajaran Islam lainnya. Walaupun begitu prosesi pelakasanaan Peusijuek ini masih tetap dipertahankan hingga seperti bentuk yang sekarang.

Fungsi Tradisi Peusijuek
Dalam budaya masyarakat Aceh, tradisi Peusijuek pada dasarnya difungsikan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Namun fungsi peusijeuk ini juga dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya seperti, Peusijuek meulangga(saat perselisihan), Peusijuek pade bijeh (mulai menanam padi), Peusijuek tempat tinggai(menghuni rumah baru), Peusijuek peudong rumoh (membangun rumah), Peusijuek kaurubeuen (saat berkurban), Peusijuek kendaraan, Peusijuek naik haji, Peusijuek khitan,dan Peusijuek pernikahan.

Pelaksanaan Tradisi Peusijuek
Pelaksanaan ritual Peusijuek biasanya dilakukan oleh tokoh agama atau tokoh adat yang dituakan oleh masyarakat. Hal ini diharuskan karena tradisi Peusijuek merupakan ritual yang dianggap sakral, sehingga untuk melakukannya haruslah orang yang paling mengerti tentang doa-doa dan prosesi dalam ritual tersebut. Apa bila orang yang diPeusijuek adalah kaum laki-laki, biasanya adakan dilakukan oleh Teungku atau Ustadz. Sedangkan apa bila yang diPeusijuek adalah kaum perempuan, maka akan dilakukan oleh Ummi atau seorang wanita yang dituakan oleh masyarakat.

Dalam pelaksanaan tradisi Peusijuek ini ada 3 hal yang paling penting, yaitu perangkat alat serta bahan peusijuek, gerakan, dan doa. Untuk perangkat dan bahan Peusijuek biasanya terdiri dari talam, bu leukat (ketan), u mirah (kelapa merah), breueh pade (beras), teupong taweue (tepung yang dicampur air), on sisikuek( sejenis daun cocor bebek), manek manoe(jenis daun-daunan), naleueng sambo (sejenis rumput), glok (tempat cuci tangan) dan sangee (tudung saji). Bagi masyarakat Aceh, setiap bahan Peusijuek ini memiliki filosofi dan arti khusus di dalamnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxTfL1767Z6Zl06hwfjvQyMyHaDT6xagjkx6FyBiVYZ4c1O3bepm2LcLheDXe5SzKxQa0Xe9JXe3Kb-4ReAWg9g0Iww_ou4f81Uzv4cFsSggq0M5UzgaM6806e80Fp-R9kmG9NziSY5e_M/s1600/peusijuek+1.jpg
Gambar : Perangkat Alat Dan Bahan Peusijuek
Gerakan memercikan peusijuk juga merupakan salah satu hal yang sangat penting, karena sifatnya yang sakral sehingga untuk melakukannya tidak boleh salah. Gerakan tersebut biasanya dilakukan dari kiri ke kanan dan dari kanan  ke kiri, serta sesekali juga dilakukan dengan gerakan menyilang. Gerakan dalam memercikan peusijuk ini tentunya juga mempunyai filosofi dan makna khusus di dalamnya.
Doa merupakan unsur terpenting dalam tradisi ini, karena inti dari upacara Peusijuek adalah memohon kepada tuhan agar diberikan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan  bagi yang membuat acara. Doa yang digunakan merupakan doa dalam ajaran agama Islam yang sering digunakan dalam tradisi Peusijuek. Oleh karena itulah yang melakukan upacara tersebut harus tokoh agama atau adat yang sudah paham dan dipercaya oleh masyarakat.

Makna Tradisi Peusijuek
Sebagai salah satu warisan budaya, tradisi Peusijuek sangat kaya akan nilai-nilai dan makna khusus di dalamnya. Bagi masyarakat Aceh, tradisi Peusijuek dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan kebahagaiaan yang diberikan kepada mereka. Selain itu tradisi ini juga sekaligus menjadi permohonan serta harapan agar selalu memperoleh keselamatan, keberkahan dan kesejahteraan.

  • Senjata Tradisional Aceh – Rencong

Rencong khas Aceh
Rencong yang merupakan senjata tradisional milik Aceh ini dianggap sebagai simbol identitas diri, yaitu simbol keberanian dan ketangguhan suku Aceh. Rencong digunakan pada zaman Kesulatanan Aceh yaitu pada saat pemerintahan Sultan Ali Mughaya Syah (Sultan Pertama Aceh).Senjata Rencong ini selalu menemani dan diselipkan di pinggang Sultan Aceh, para ule balang dan juga masyarakat memakai rencing sebagai senjata dalam mempertahankan diri. Senjata rencong dikenalkan oleh Sultan dengan para bangsawan lainnya.Rencong milik Sultan dan para bangsawan, biasanya terbuat dari emas dan sarungnya terbuat dari gading. Sedangkan rencong yang digunakan oleh masyarakat biasanya dibuat dari besi putih atau kuningan dengan sarung yang terbuat dari kayu dan tanduk kerbau.
Sebagai senjata tradisional Aceh, rencong terdiri dari 4 macam, yaitu;
  • Rencong Meucugek (Meucugek)
Meucugek atau cugek ini merupakan istilah perekat. Bentuk dan gagang rencong dibuat panahan dan mempunyai perekat yang berfungsi memudahkan penggunanya saat menikamkan senjata ini ke badan musuh/lawan.
  • Rencong Meupucok
Rencong ini mempunyai pucuk yang terbuat dari ukiran-ukiran logam emas di atas gagangnya. Rencong ini biasa digunakan sebagai hiasan pada acara-acara resmi yang berhubungan dengan acara adat ataupun kesenian.
  • Rencong Pudoi
Rencong ini disebut pudoi karena rencong ini mempunyai gagang yang pendek dan lurus. Sehingga terkesan rencong tersebut belum selesai. Sebutan pudoi Aceh ini adalah istilah untuk sesuatu yang dianggap belum selesai/sempurna.
  • Rencong Meukuree
Yaitu yang mempunyai hiasan pada bagian matanya. Hiasan tersebut dapat berupa gambar lipan, ular, bunga ataupun yang lainnya
Hasil Budaya dari Yogyakarta

  • Rumah Adat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrgpO5d0hFKImqapX6hY-nUlZwPiXennb9w_JSiaPRC4GQFa70qQ8Tjdvo7y8EgQKItD5ZSO7EKLHEjddUED9PHT7K3Z8iepnSScWQU3mPEwN18rYYNn9pGmlz_hkvw5PxVuA4Qo9K8t8/s1600/rumah%252Badat%252B+Bangsal%252BKencono%252BKeraton%252Bjogjakarta.jpg
Rumah adat Yogyakarta bernama Rumah Bangsal Kencono Keraton. Rumah yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I pada tahun ini merupakan rumah kediaman sekaligus istana bagi raja Ngayogyakartan Hadiningrat dari dulu hingga sekarang. Oleh banyak pihak, Bangsal Kencono Keraton dianggap sebagai bangunan dengan desain terbaik yang sudah menerapkan tata kelola ruang seperti rumah modern. Selain itu, rumah adat ini juga punya beragam keunikan dari sisi arsitekturnya maupun dari sisi nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Secara umum, arsitektur bangungan utama pada rumah Bangsal Kencono memiliki banyak kesamaan dengan desain rumah adat Jawa Tengah. Atap rumah ini memiliki bubungan tinggi yang menopang pada 4 tiang di bagian tengah yang bernama Soko Guru. Material atapnya sendiri terbuat dari bahan sirap atau genting tanah.
Adapun untuk tiang dan dinding, rumah ini disusun dari kayu-kayuan berkualitas. Tiang yang biasanya dicat berwarna hijau gelap atau hitam menopang pada umpak batu berwarna hitam keemasan. Sementara lantainya dibuat dari bahan marmer dan granit dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya. Kompleks rumah Bangsal Kencono sendiri tersusun atas beberapa bangunan dengan fungsinya masing-masing. Fungsi-fungsi ruang tersebut disesuaikan dengan kegunaan rumah adat Yogyakarta ini sebagai istana kerajaan.
  • Pakaian Adat
Keunikan baju adat Yogyakarta selain dari bentuk bajunya juga atas penggunaannya. Bahwa masyarakat Yogyakarta memiliki setidaknya 6 baju adat yang digunakan oleh kaum pria dan wanita dewasa, remaja dan anak-anak. Selain itu ada baju adat yang khusus digunakan pada acara tertentu saja disamping penggunaan baju adat Yogyakarta sehari-hari.

Orang jawa khususnya masyarakat Yogyakarta memiliki pepatah yang menjadi pedoman hidup mereka yaitu "ajining diri saka lati, ajining raga saka salira" yang berarti jiwa dan raga harus mendapatkan perhatian yang serius agar mendapat penghormatan dari pihak lain. Oleh sebab itu diantara ajining raga adalah memperhatikan adab dalam berpakaian.
1. Pakaian Adat Yogyakarta untuk Laki-Laki Dewasa
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfJvTS40zeb8fJH0p2usOgOZVYfHuPiLtq3tW-THNCcEAZhyGRXyNw2u5coPcU8lGKRO1YxBMD16T4fJlcRXGqpmkmoHM6t5bEf0Rt_PoyglxhNUxgaWc2mbttQy3FeWVbEK5irjXntN4/s1600/baju+adat+yogykarta%252BPakaian+Adat+Yogyakarta+untuk+Laki-Laki+Dewasa.jpg
Pada umumnya, pakaian / baju adat laki-laki dewasa di Jogja adalah mengenakan surjan serta kebawahan berupa kain batik atau yang disebut jarik. Penggunaan Blankon (penutup kepala) juga menjadi keharusan pada saat penggunaan pakaian / baju surjan. Selain blankon, lelaki dewasa Yogyakarta juga menggunakan alas kaki berupa sendal / selop.
2. Pakaian Adat Yogyakarta untuk Wanita Dewasa
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPrp_RcyOIiHkYCMhOOKcphLGkyvGAb3Atkf5Swh1KzGJAMvG1-LHS1O5ZK0wsExXkHvXH6op-GyDFmGAnYKMTY7chpldkaXxuBxqUtTA1co_k0hISIUSglcNCWz75f8HW04Mm-vBZ9B8/s1600/Pakaian+Adat+Yogyakarta%252BPakaian+Adat+Yogyakarta+untuk+Wanita+Dewasa.jpg
Wanita dewasa di Yogyakarta menggunakan pakaian adat berupa kebaya dengan bawahan kain batik/jarik. Ciri khas lainnya adalah tatanan rambut yang disanggul / konde. Bahan kain yang dipakai untuk pembuatan pakaian adat yogyakarta antara lain berasal dari bahan katun, bahan sutera, kain sunduri, nilon, lurik, atau bahan-bahan estetis. Teknik pembuatannya ada yang ditenun, dirajut, dibatik, dan dicelup. Sementara untuk kebaya sendiri kebanyakan menggunakan bahan beludru, brokat, atau sutera.
3. Baju Adat Anak Laki-Laki Yogyakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiM-0EHkRDGLwf9EpVeBF8fXil-ROTO-QRVYzr_g09AZ5XQqmMGBeiiult8CmoMDAEPaH9pw_qc1DysEhefiI9VcAGCZfbCHd8vZjXWbmwyUxVazn0BSEmfG85jU-ysxeyvIGNicJGVvCY/s1600/Pakaian+Adat+Yogyakarta%252BBaju+Adat+Anak+Laki-Laki+Yogyakarta.jpgBaju adat Yogyakarta yang diperuntukkan bagi anak laki-laki dikenal dengan nama kencongan. Kencongan yang dikenakan oleh anak laki-laki ini terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan baju surjan, lonthong tritik, ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Sementara untuk pakaian keseharian terdiri dari baju surjan, kain batik dengan wiru di tengah, lonthong tritik, kamus songketan, timang, serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepal.
4. Pakaian Adat Yogyakarta untuk Anak Wanita
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1sbndbOYVzRwWbfkUto7ipmMMHAm3sSOK9CCeWvxNVbJZkmVwBQiCwM6Q38abRM7TML2aEJZoF8XcwzuYSJntjROJslu5tFdGJKlSy_92H99b2WcC0oFKg8Lu1AO6xcSnSy8CemAS_UE/s1600/Pakaian+Adat+Yogyakarta%252BPakaian+Adat+Yogyakarta+untuk+Anak+Wanita.jpg
Baju adat untuk anak perempuan di Yogyakarta disebut dengan Sabukwala Padintenan.  Baju adat ini berbentuk jarik / kain batik bermotif parang, ceplok, atau gringsing, baju katun, ikat pinggang kamus yang dihiasi dengan hiasan bermotif flora atau fauna, memakai lonthong tritik, serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu, burung garuda, atau merak. Ditambahkan pula penggunaan perhiasan dari subang, kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar), gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin sebagai pelengkap. Bagi yang berambut panjang tatanan rambutnya dibuat model kone atau disanggul.

Hasil Budaya Jawa Timur
  • Pakaian Adat Jawa Timur
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0ZPuwIsFECxL6bmvO4YONhHu_Fe8ujs-Hg_DhvKDL04dtwMFFQePzXTDS7XN6qeNJKAZsHjURc-Osqx__KtUWG1UOm4Dy5LqyI49uph6l65xogkxEkaLrG_tD7RPXdwBn8EZW7T-zv0A/s1600/pakaian%252Badat%252Bprovinsi%252Bjawa%252Btimur.jpg
Pakaian Adat Jawa Timur Jika kita lihat sekilas, pakaian ini sebetulnya memiliki beberapa kesamaan dengan pakaian adat yang biasa dikenakan orang-orang Jawa Tengah ( Baju Adat Jawa Tengah ). Hal ini disebabkan juga karena masyarakat Jawa Timur tersebut secara historis memang memperoleh banyak sekali pengaruh kebudayaan dari Jawa Tengah yang berkembang lebih dominan pada masa silam lalu. Akan tetapi, meskipun memiliki banyak sekali kemiripan, ada juga beberapa hal yang membedakan kedua jenis pakaian adat tersebut. Pertama, mungkin dari segi coraknya. Corak pakaian adat Jawa Tengah ini yang banyak melambangkan nilai-nilai segi kesopanan dan tatakrama, namun sangat kontras jika dibandingkan dengan baju adat jawa timur yang lebih menonjolkan kepada nilai-nilai ketegasan dan tetap terlihat sederhana juga menjunjung tinggi pada etika.

Kedua, di lihat dari segi perlengkapan pakaian yang dipakai. Baju Adat Jawa Timur dikenakan bersama dengan beberapa aksesoris yang unik, seperti tongkat (sebum dhungket), penutup  kepala (odheng),  arloji rantai, serta selendang kain yang diselempangkan pada bahu. Terlepas dari kemiripan dan beberapa perbedaan tersebut, baju atau pakaian adat Jawa Timur sendiri dibedakan menjadi 2 macam, antara lain baju pesaan dan baju mantenan. Apa dan bagaimana baju mantenan tersebut dan baju pesaan.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpKvUFJxZFtttZP90ZHrDSqmg3O-JTU9gtXzSA_2X9lCYa0Z0yo3ZSNRpM3C44fLCfCbikGFE03SV0BwFmf8yvPDMdB1acwpUzU8zd4yUVe06Tf2yXeZq8lymnt6cAHW5ILMg-8TNgTjU/s1600/pakaian%252Badat+Jawa%252BTimur%252BMantenan.JPG
1. Baju Mantenan sesuaikan dengan namanya, baju ini pada umumnya hanya dikenakan pada saat resepsi pernikahan adat Jawa Timuran oleh para mempelai. Baik itu untuk mempelai laki-laki maupun untuk mempelai wanitanya, baju mantenan ini juga memiliki corak warna yang sama, yaitu warna hitam sebagai warna dasar dan warna merah untuk motif hiasannya. Untuk penggunaan pakaian ini juga dilengkapi penutup kepala dan juga rangkaian bunga melati yang dikalungkan di bagian leher untuk mempelai prianya dan digantungkan pada sanggul untuk mempelai wanita. Gelang tangan dan sabuk emas  juga dipakai sebagai pelengkap bersama dengan terompah, selendang kain yang diselempangkan pada bahu, juga aksesoris tambahan lainnya. Secara sederhana, kenampakan dari baju mantenan ini bisa kita lihat pada gambar di bawah ini.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHvRdQoXIajXV54BWG2e8MmWcQMg_2oL-M9B3vm8AuzLeA-4VDEHOUaj_OAKavLe9U_idDr2wYAMj58ohldTbSxZHQ_6X1cxLCESQ7wVYAD51quYA0NHU3lhpy4p4aT7BhpY6iU-xE4lg/s1600/pakaian%252Badat+Jawa%252BTimur%252BPesaan.JPG
2. Baju Pesaan khas Madura Baju Adat Jawa Timur Baju pesaan ini sebetulnya merupakan baju keseharian yang biasanya dikenakan hanya oleh orang-orang Madura dan sebagian pesisir utara Jawa Timur. Kendati demikian, karena keunikan dan ciri khas yang dimilikinya, baju ini justru menjadi ikon utama yang mewakili daerah timur pulau jawa di kancah Nasional.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdpF8lc8pu6nSQG9aKgfFo5sl4BYEzjfU5ej1uwQpaKsNIpyRIQQRgYiNG-owlYTLBXYQB1scMIg4mmT-cDWH_LPjYKzBlWEuMlwfsJ6AiT_l-UvA_I_HXx4zXng_1_q4IfH_abV0NXSk/s320/Baju%252BCak%252Bdan%252BBaju%252BNing%252BJawa%252BTimur.jpg
3. Baju Cak dan Baju Ning Jawa Timur, Surabaya,  setiap tahun diadakan sebuah kontes pemilihan bujang dan gadis yang bernama Kontes Cak dan Ning. Dalam kontes tersebut, para bujang dan gadis biasanya mengenakan pakaian khas dari Surabaya yang sempat tenar pada tempo dulu dan masih kerap digunakan hingga saat ini juga dalam acara-acara besar di kantor dan kediaman walikota atau di balai kota. Baju Adat Jawa Timur Cak digunakan oleh para prianya. Pakaian ini pun berupa perpaduan beskap atau jas tutup untuk atasan, jarik sebagai bawahan, kuku macan sebagai hiasan yang digantung pada saku beskap, terompah, dan sapu tangan merah.  Sementara itu pakaian adat Jawa Timur Ning dikenakan oleh para wanitanya. Pakaian ini berupa perpaduan dari kebaya sebagai atasan, jarik untuk bawahan, kerudung lengkap dengan renda, dan beragam aksesoris tambahan lainnya seperti anting, selop, selendang, dan gelang.

 Hasil Budaya Cirebon
  • Tari Topeng

Tari topeng merupakan salah satu kesenian asli Cirebon yang mana berupa tarian dan si penari ini menggunakan topeng untuk menari. Tarian ini memiliki sisi historis dimana dulunya digunakan sebagai alat untuk diplomasi ketika Kerajaan Cirebon berperang dengan kerajaan Karawang. Dulunya Sunan Gunung Jati sebagai Sultan Cirebon kewalahan menandingi kesaktian pangeran Welang, dengan menciptakan tarian topeng sebagai salah satu cara diplomasi, akhirnya pangeran Welang jatuh cinta dengan si penari, dan menyerah, serta berjanji menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati. Biasanya si penari topeng ini akan berganti topeng sesuai dengan karakter yang dimainkan dalam cerita yang dibawakannya.
  • Sintren

Pertunjukan kesenian yang satu ini, memang diwarnai dengan sisi magis, karena si penari akan diikat dari leher hingga ujung kaki, kemudian dikurung didalam kurungan ayam yang besar yang telah di tutupi, sesaat si penari tadi sudah berubah dengan pakaian khas penari sintren lengkap dengan kacamata hitamnya, dan dengan iringan gamelan, penari yang kerasukan ini, menari, hingga pertunjukan selesai. Kesenian sintren saat ini memang jarang dimainkan, namun ada juga beberapa grup sintren yang sekarang masih tetap eksis di Cirebon.

Hasil Kebudayaan Bali
  • Tari Bali
Bali mempunyai berbagai macam jenis tarian daerah yang berasal dari daerah ini diantaranya yaitu sebagai berikut :
  • Tari Pendet
Tari Pendet ini ditarikan sebagai tari selamat datang untuk menyambut kedatangan para tamu dan
undangan dengan menaburkan bunga, dan ekspresi penarinya penuh dengan senyuman manis. Pada
awalnya tarian ini dipakai pada acara ibadah di pura sebagai bentuk penyambutan terhadap dewa
yang turun ke dunia.
  • Tari Panji Semirang
Tarian ini di mainkan oleh perempuan. Tari Panji Semirang yaitu tarian yang menggambarkan
seorang putri raja bernama Galuh Candrakirana, yang menyamar menjadi seorang laki-laki setelah
kehilangan suaminya. Dalam pengembaraannya ia mengganti namanya menjadi Raden Panji.
  • Tari condong
Jenis tarian ini adalah tarian yang cukup sulit untuk diragakan dan tarian ini mempunyai durasi
panjang. Tarian ini yaitu tarian klasik Bali yang mempunyai gerakan yang sangat kompleks dan
menggambarkan seorang abdi Raja
  • Tari Kecak
Tarian ini adalah jenis tarian yang sangat terkenal dari daerah Bali. Tarian ini dimainkan oleh puluhan
laki-laki yang duduk bari melingkar. Tarian ini menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera
membantu Rama melawan Rahwana. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang
yakni tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi
dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada
masyarakat.
  • Alat Musik Suku Bali
Bali mempunyai alat musik tradisional yang khas dari daerah ini, alat musik ini adalah alat musik peninggalan turun menurun leluhur mereka, dan berikut beberapa alat musik tradisional Bali :
  • Gamelan Bali
Sama seperti daerah lain di Indonesia yang mempunyai alat musik gamelan, Bali pun mempunyai alat
musik gamelan. Namun gamelan Bali ini mempunyai perbedaan dengan gamelan daerah lain salah
satunya yaitu ritme yang dimainkan pada gamelan Bali berjenis ritme yang cepat.
  • Rindik
Rindik adalah alat musik khas Bali yang terbuat dari bambu yang bernada selendro. Alat musik ini
dimainkan oleh 2 sampai 4 orang, 2 orang menabuh rindik sisanya meniup seruling. Alat musik ini
digunakan untuk pementasan tarian jogged bumbung dan untuk acara pernikahan.
  • Adat Kebudayaan Suku Bali
Masyarakat Bali terdiri dari masyarakat yang beraga Hindu tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap
masyarakat lain yang tinggal di Bali namun tidak memeluk agama Hindu. Berikut beberapa
upacara yang biasa di lakukan oleh masyarakat bali :
  • Pernikahan
Untuk acara pernikahan ada beberapa upacara adat yang harus dilewati diantaranya yaitu sebagai berikut :
  • Upacara ngekeb
Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi
seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia
menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa
keturunan yang baik
  • Mungkah Lawang (Buka Pintu)
Adat ini adalah adat mengetuk pintu pengantin wanita sebanyak tiga kali, sebagai bentuk bahwa
pengantin pria telah datang untuk menjemput pengantin wanita dan memohon agar
segera dibukakan pintu.
  • Madengen dengan
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif
dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian
  • Mewidhi Widana
Acara ini merupakan acara penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan
diri pengantin yang telah dilakukan pada acara sebelumnya. Lalu keduanya menuju merajan yaitu
tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa.
  • Mejauman Ngabe Tipat Bantal 
Setelah beberapa hari menikah, baru upacara ini dilaksanakan. Acara ini dilakukan untuk memohon
pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur,
bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya
  • Upacara potong Gigi
Upacara potong gigi ini wajib dilakukan oleh laki-laki dan wanita yang beranjak dewasa yang di
tandai datangnya menstruasi untuk wanita dan membesarnya suara untuk laki-laki. Potong gigi bukan
berarti gigi dipotong hingga habis, melainkan hanya merapikan atau mengikir enam gigi pada rahang
atas, yaitu empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan yang dipercaya untuk menghilangkan enam
sifat buruk yang melekat pada diri seseorang, yaitu kama (hawa nafsu), loba (tamak), krodha
(amarah), mada (mabuk), moha (bingung), dan matsarya (iri hati atau dengki).
  • Upacara Kematian
Masyarakat Bali selalu mengadakan upacara kematian di saat ada seseorang atau kerabat yang
meninggal dunia. Upacara kematian ini dikenal dengan nama upacara ngaben. Upacara ini yakni
upacara pembakaran bagi orang yang sudah meninggal. Pada intinya upacara ini untuk
mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda
mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu
dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa selaku Dewa yang dipercaya oleh masyarakat atau umat hindu
khususnya masyarakat hindu Bali

Komentar

Postingan Populer